Sabtu, 20 Oktober 2012

Berbagai Pendapat Mengenai Masalah ke-Mursyidan ~ TQN MARGADANA

Ikwan dan akhwat TQN yang terhormat . Disadari ataupun tidak kita telah dibawa dan digiring pada suatu masa kurun waktu tertentu. Dimana dengan kurun waktu itu kita akan merubah suatu peradaban dunia dengan karomah dan wasilah Pangersa Qutubul Aulia Mujadidul Abror wa Mursyiduna Fii Akhir Zaman Kanjeng Syech Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin Qs.

Beliau adalah seorang pembaharu yang diakui secara Nasional maupun Internasional, baik yang ikhwan Tqn Suryalaya ataupun bukan pasti telah merasakannya . Diantaranya sifat-sifat beliau yang telah kita rasakan adalah :

  1. Sattaron ( menutup kesalahan/aib muridnya )
  2. Ghofaron ( Besar Pemaaf )
  3. Rofiqon ( Welas Asih )
  4. Safiqon ( Selalu Sopan dan Rindu kepada orang )
  5. Shodiqon ( Benar )
  6. Mutashodiqon ( Dianggap Benar dan diikutin )
  7. Amiron ( Menyuruh dengan Merendah / tawadhu )
  8. Lathifan ( Lemah Lembut dan deuh-deuh / Kasih Sayang )
  9. Qiyamullail ( Sunah Malam )
  10. ith'amuttho'am ( Suka Memberi Makan / Sesuguh / Menyajikan kepada Tamunya )
  11. Aliman ( Pinter )
  12. Suja'an ( Gagah Berani karena Benar )

Dari 12 sifat-sifat inilah banyak muncul karomah Guru Agung yang tentunya telah kita rasakan. Ketahuilah bahwa Guru Agung Pangersa Abah Anom adalah seorang Guru Ruhaniyah yang paling bijaksana dikolong langit ini, salah satu buktinya beliau mengeluarkan sebuah maklumat yang pada hakikatnya adalah suatu pekerjaan suluk bagi kita “ yang mengaku sebagai murid ” yang sedang dibimbingnya.

Tenggang waktu sepeninggalnya Guru Agung secara dzohir, kita merasakan kehilangan yang sangat tiada tara, tapi percikan cahaya ruhaniyahnya sangatlah membekas, justru disisi inilah kita akan ditantang dan diuji seberapa tangguh keimanan sang murid menghadapi masa atau kurun waktu transisi kemursyidan yang delematis. Pasti semua ikhwan bertanya-tanya “ Siapakah Mursyid penerus risalah TQN Suryalaya selanjutnya ? ”. Sehingga pengemban amanah mengeluarkan sebuah maklumat yang berupa sebuah surat edaran yang berisi sebuah himbauan dan ajakan
Maka dari sinilah lahir berbagai Pendapat Para Ikhwan mengenai Surat Edaran no:045.PPS.VIII.2012 yang dikeluarkan oleh Pengemban Amanah Tqn Suryalaya, diantaranya adalah:

1. “Urusan tentang kemursyidan (siapa pengganti mursyid) adalah bukan urusan seorang Murid ”.
Kalau bukan urusan MURID lalu urusan siapa ? Apakah urusan MURSYID itu sendiri ataukah urusan Para Wakil Talqin ?

Bukankah para wakil talqin itu dalam tanda kutip bukan seperti murid kebanyakan atau biasa? Tetapi mereka juga bukan seorang Mursyid itu sendiri ? Nah kalau urusan Mursyid bukan urusan seorang Murid itu sendiri, berarti seorang Mursyid mengaku jadi Mursyid ? wah gawat nich..

Bagaimana juga hukumnya jika ada seorang murid atau beberapa murid atau diluar murid (belum mengenal thoriqoh) tanpa istikhoroh terlebih dahulu, kemudian dikasih oleh Alloh sebuah anugerah bermimpi bertemu dengan Mursyid yang telah meninggal dunia dan berkata kepadanya, bahwa pengganti si A adalah si B?

Apakah mereka yang bermimpi tersebut masih akan disebut sebagai " Murid " yang mengurus-ngurus masalah kemursyidan ? Lalu,,,Apakah Surat Edaran yang kemarin itu juga tidak boleh dikatakan sebagai "mengurus-ngurus" masalah kemursyidan (oleh selain Mursyid). Terus siapa yang berkata bahwa "Pengemban Amanah adalah sama dengan "Mursyid" ?

Bacalah “ Surat Pernyataan No:211.PPS.X.1998 ”, tentang batasan-batasan tugas yang diemban kepada para pemegang amanah oleh Abah Anom ; Adakah disana tertera suatu tugas, yaitu masalah Mengurus-ngurus Kemursyidan ?

Coba anda renungkan ? Dan Ingat..padahal Guru Agung Pangersa Abah tidak pernah mengaku sebagai seorang Mursyid. Menurut Syaikh Abdul Gaos Saefulloh Maslul Ra : " Apabila dahulu Pangersa Abah Anom qs mengaku seorang Mursyid, maka saya tidak mau berguru kepada Pangersa Abah Anom qs "

Abah Anom Qs adalah seorang Guru yang Agung dan suci dan pemilik akhlaq yang mulia, beliau tidak pernah mengaku-ngaku sebagai mursyid. Yang mengaku Pangersa Abah Anom Qs seorang Mursyid adalah para murid-murid beliau, bukan dari Pangersa Abah Anom sendiri. Makanya sering kita mendengar Pangersa Abah Anom Qs selalu mengatakan : " Abah juga sama-sama sedang belajar dzikir " Subhanalloh betapa tawadhunya beliau.


2. “ Urusan Kemursyidan bukan urusan seorang Murid, akan tetapi urusan Alloh ”
Lalu bagaimana cara teknisnya kalau benar bahwa itu hanya urusan Alloh. Lalu bagaimana hukumnya jika kita secara beramai-ramai memohon petunjuk (sholat istikhoroh) kepada Alloh tentang siapa pengganti atau penerus mursyid berikutnya, dalam tanda kutip jika seorang Mursyid tidak meninggalkan bukti secara otentik tersebut. Apakah hal seperti ini bisa dikatakan "Mengurus-ngurus" masalah ke-Mursyidan oleh seorang Murid.? Kalau tidak bertanya kepada Alloh lalu bertanya kepada siapa?

Apakah kemursyidan lebih bersifat tertutup dan "sakral" dibanding dengan kenabian? hingga dengan mengatakan bahwa kemursyidan adalah urusan Alloh, maka tertutuplah karekteristik ciri kemursyidan bagi seseorang. Seorang Nabi saja sebelum kemunculannya akan terlebih dahulu di beritakan didalam kitab-kitab suci sebelumnya melalui ciri-ciri dan ke khosannya.

Lalu bagaimana dengan mursyid ? Apakah Alloh menutup tanda kemursyidan sehingga umat dibingungkan dengan masalah kemursyidan tersebut? ataukah sebenarnya ciri-ciri yang menggambarkan seorang mursyid itu sudah ditampakkan ? namun se3bagian mereka menolak, disebabkan mereka terlanjur membenci orang yang bersangkutan, sebagaimana kaum yahudi menolak kerosulan Nabi Muhammad Saw.


3. “urusan ke-mursyidan boleh dimusyawarahkan secara akal seperti layaknya pemilihan presiden”.
Bukankah ini juga termasuk mengurus-ngurus masalah mursyid, lalu jika ada  pertanyaan atau komentar mengenai kemursyidan oleh kami, maka pertanyaan / komentar tersebut juga dianggap  mengurus-ngurus masalah kemursyidan itu sendiri?. Apakah hasil keputusan para wakil talqin juga tidak dianggap mengurus-ngurusi masalah kemursyidan. Kalau ada seorang murid mengakui kemursyidan seseorang lalu dianggap sedang mempromosikannya? Apakah tidak sama dengan hasil musyawarah itu sendiri.

Sebab menurut saya yang miskin pengetahuan agama ini, saya sangat membutuhkan seorang wali mursyid secara dzohir, yang dapat diajak bicara, mendengarkan keluh kesah seorang murid, memecahkan problem kehidupan seorang murid, memberi solusi, dapat memandang wajahnya, dapat berdialog secara kasat mata dan lain-lainnya, bukan menanti tanpa harapan. Dan apakah kita akan bersabar, jika menerima sebuah keputusan hasil akal oleh musyawarah yang dilakukan oleh " selain para Mursyid " dan pas kebetulan hasil keputusan tersebut mengangkat seseorang yang sangat kita benci? Apakah kita bisa menerimanya hasil keputusan itu dengan hati legowo? hanya waktulah yang akan menjawab...


4. “ Urusan ke-mursyidan itu urusan Murid yang paling senior ( paling sepuh dan dianggap sudah teruji hidmatnya )”.
Bukankah ini juga termasuk mengurus-ngurus masalah kemursyidan, ironisnya ini dianggap sebagai saksi Agung kemursyidan. bukankah didalam berthoriqoh tidak mengenal istilah senior dan yunior, tidak mengenal lama dan baru? sebab didalam berthoriqoh berhubungan dengan keyakinan seseorang dengan Tuhannya melalui wasilah Gurunya,  jadi tidak bisa diukur dengan senior atau pun yunior, lama ataupun baru.

Ingatlah kalau kita tidak segera menentukan penerus mursyid pelanjutnya, maka dipastikan amaliayah beliau akan tinggal kenangan alias musnah, lalu kepada siapa lagi kita meminta petunjuk dan bersabar atas polemik yang berkepanjangan ini ? Apakah akan bertanya kepada selain Alloh ? Na'udzubillah...

5. “Urusan Kemursyidan itu harus ada bukti secara otentik ”.
Dan kalau ada sebagian yang memperdebatkan bahwa seseorang telah mendapatkan sebuah wasiat dari Mursyidnya terdahulu secara otentik tersebut, tentang siapa pengganti dirinya (Mursyid terdahulu). Dimana satu kelompok yang lain mempercayainnya, bahwa benar-benar itu adalah sebuah bukti yang otentik. Dan kelompok yang lain tidak mempercayainnya sebagai bukti otentik dari Mursyid sebelumnya, artinya hanya diaku-aku secara sepihak oleh orang yang bersangkutan atau kelompok yang mendukungnya (PRO). Atau menurut istilah lain kelompok  yang KONTRA

Ada juga kelompok lain yang mengambil sikap jalur tengah tersendiri, dengan memohon petunjuk kepada Alloh (Beristikhoroh), bahwa ia yang dikontroversikan itu benar-benar telah mendapat wasiat otentik dari mursyid terdahulu . Dan kelompok yang lain juga memperdebatkan soal benar tidaknya MIMPI seseorang atau beberapa orang baik yang setelahnya atau sesudahnya Mursyid terdahulu meninggal secara dzohir, mengaku ketemu Mursyid terdahulu misal;  ketemu Syaikh Abdul Qodir qs atau nabi Muhammad Saw atau lain-lainnya, yang semuanya berkata yang sama bahwa si A adalah penerus Mursyid sebelumnya, dengan berpedoman kepada kitab Sirrul Asror dalam bab "Hal-hal ketika tidur dan mengantuk".

Sementara kelompok yang lain tidak membenarkan bahwa mimpinya orang tersebut tidak benar dan tidak bisa dijadikan bukti otentik. Dengan alasan bukti otentiknya tidak obyektif (misal pengakuan sepihak, mimpi, isyarat ghaib, penafsiran pribadi dan lain-lainnya, lihat pendapat KH Wahfiudin).
Apakah kalau tidak ada bukti secara otentik kita dengan seenaknya mengatakan bahwa si A bukan seorang Mursyid ? Apakah kita tahu bukti otentik itu apa? seandainya seorang Mursyid memberikan bukti secara otentik kepadanya? Apakah nantinya bisa menerima beliau sebagai Mursyid. Jawabanya hanya satu ? perlu kecerdasan didalam menyingkapi sesuatu yang belum kita pahami secara lahir bathin
Dan seandainya ada BUKTI OTENTIK pengangkatan seorang Mursyid yang tertulis, itu berarti bahwa Mursyid yang bersangkutan mengakui bahwa dirinya seorang Mursyid, ini mustahil bagi mursyid yang kamil mukamil.

6. “Urusan kemursyidan muridlah yang mempromosikan ”.
Seorang mursyid tidak akan mempromosikan dirinya sebagai mursyid, murid-muridnya-lah yang mempromosikannya bahkan mengagungkannya, seperti murid-murid Pangersa Abah QS yang mengagungkan Abah dan juga seperti murid-muridnya tuan Syaikh Abdul Qodir QS mengagungkan tuan syaikh, sangat wajar kalau para fans mempromosikan seorang yang dirinya menyakini sebagai mursyidnya. Kita tidak berhak melarang seseorang dalam memilih mursyid yang dia yakininya.

Syech Hisam Kabbani berkata : " Salah satu kewajiban murid adalah mempublikasikan pesan moral syekhnya kepada orang lain, baik dengan mass media (seperti: TV, Radio,Internet , dll) atau media yang lainnya. namun jika kalian (si murid) membawa rahasia syekh, ada daya tarik. masyarakat akan datang tanpa perlu usaha dan persiapan..."

Catatan : Diambil dari berbagai sumber

http://tqnmargadana.blogspot.com/2012/09/berbagai-pendapat-mengenai-masalah-ke.html

13 komentar:

  1. lucu jg klo ada yg menanyakan bukti otentik ke mursyidan ini... sedangkan seorang mursyid haram hukumnya mepromosikan diri sendirinya seorang mursyid ..
    klo ada yg gituh .. sy akan menanyakan kpd orang tsb .. dulu waktu di talqin dzikir .. apakah kita menanyakan bukti pangersa abah anom seorang mursyid ??? .. kan tentu tdk .. percaya aja , gitu aja kok repot seh ???

    BalasHapus
  2. Jangan dijadikan masalah...mo ada pengganti to engga ??? urus aja ibadahnya biar benar,biar bisa membersihkan hati denga baik....Padahal kita belajar untuk membersihkan hati dari Nafsu...ko malah jadi Pda nafsu...inget Tanbih...lebih baik melihat dari pada mendengar....yang adanya katanya-katanya-katanya...? Watasimu bihablillah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. 100% mas apa kata sampeyan mari kita terus istiqomah berdzikir bkn giat mencari guru baru

      Hapus
  3. TQN oh TQN

    TQN Suryalaya keberadaannya sangat kita syukuri dan sebagai ikhwan saya senang sekali serta turut bersyukur telah dapat bergabung dan bertalqin.

    Untuk selanjutnya baik itu Mursyid atau penerus Pangersa Abah Anom Ra. saya kurang mengerti bagaimana hukum-hukumnya. Sebab disaat Pangersa Abah Anom Ra adapun, banyak juga Syekh Mursyid yang sejajar dengan beliau, yaitu yang berguru kepada Syekh Akhmad Khatib Syambas Ra, diantaranya Syaikh Abdul Karim at-Tanara (TQN Kadu Prasi Labuhan-Banten)dan mungkin masih ada lagi yang kita tidak mengetahui dan tidak mengenal.

    Kemungkinan setelah Pangersa Abah Anom ra bisa jadi ada beberapa mursyid yang mengatas namakan Kloter 38, terserah saja. Karena seperti yang tadi saya sebutkan Kloter 37 pun itu tidak cuma 1 yaitu TQN Suryalaya saja. Malah TQN Kadu Prasi itu sdh mencapai Kloter 39).

    Kepada sahabat-sahabat ikhwan, mari kita banyak belajar lagi tentang ilmu-ilmu Syariat, sebelum mencapai Thareqat, Hakikat dan Ma'rifat.

    Semoga Allah SWT membimbing kita ke jalan yang diridhai-Nya.
    Amin Ya Rabbal Alamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah benar kata Anda tapi memgingat kemursyidan Abah Anom sbg Sulthon aulia 100th artinya dihitung Belaiu diangkat Mursyid sampai sekarang kita masih di bawah bimbingan Abah Anom bkn cari guru tp beristoqomahlah dzikir.tmk salam kenal

      Hapus
  4. No 1708 | 6 Februari , 2008

    Ulama Palestina Issa Badwan: Al Mahdi Apakah Lahir di Palestina Empat Tahun Lalu; Penaklukan Muslim Roma sudah dekat

    Berikut adalah kutipan dari sebuah wawancara dengan ulama Palestina Syeikh Issa Badwan, yang disiarkan Al-Aqsa TV pada tanggal 6 Februari 2008.

    Syeikh Issa Badwan: Seseorang yang terkenal dan yang saya percaya - tidak perlu menyebutkan namanya - mengatakan kepada saya bahwa empat tahun lalu, ketika ia sedang mengendarai mobilnya, ia melihat seorang perempuan tua, yang menghentikannya dan memintanya untuk membawanya ke rumah sakit, untuk menjemput melihat putrinya yang baru saja melahirkan. Dia setuju dan membawa wanita itu ke RS, dan menunggu selama satu jam di pintu masuk. Tak lama kemudian wanita itu keluar, dengan putri dan cucunya, dan ketika mereka masuk ke mobil, tiba-tiba bayi itu berbicara, dan berkata: “. ASSALAAMU 'ALAIKUM WARAHMATULLAAHI WABAROKAATUH”. Seketika orang-orang di mobil kaget dan spontan membalas salam itu WA 'ALAIKUM SALAM WARAHMATULLAAHI WABAROKAATUH.
    Pewawancara: Bayi yang baru lahir bicara?

    Issa Badwan: Ya, bayi. Bayi said ... Inilah orang yang mengatakan kepada saya, dan kami melaporkan hal ini kepada Syekh Nizar dan Asosiasi Ulama Islam ... Bayi baru lahir berkata: "AKULAH ORANG YANG AKAN DIBUNUH OLEH ANTIKRISTUS ( DAJJAL ), yang tidak akan memerintah siapa pun lagi." Menurut hadis Nabi, orang ini akan diangkat menjadi [Mahdi] pada usia 18-20 tahun. Ini adalah kabar baik.

    Tentu saja, kedatangan Antikristus akan didahului oleh penaklukan dari Roma di Italia, dan Konstantinopel, seperti Nabi mengatakan kepada kami. Tempat-tempat ini akan ditaklukkan hanya oleh Mahdi benar. Al Mahdi adalah dari Palestina, seperti yang disampaikan oleh Mu'adz bin Jabal, Sa'ad bin Abi Waqqas, dan Abdullah bin Mas'ud, yang semuanya imam besar dan ulama.

    Pewawancara: Apakah ada yang mengikuti apa yang terjadi dengan anak ini?

    Issa Badwan: Ya, sekarang identitasnya diketahui, dan saudara-saudara mengikuti dan merawat dia. Saya ingin menyampaikan kepada masyarakat, serta para ulama, bahwa ini adalah kemenangan, dengan rahmat Allah, bahwa Mahdi yang dijanjikan hidup di antara kita, bahwa rakyat Palestina akan menjadi pembawa standar, yang akan membawa agama ini keluar dan menyebar bimbingan dan cahaya.

    http://www.youtube.com/watch?v=vjSrvYKdk3Y&feature=youtu.be

    http://www.memritv.org/newsletter/AlAqsa.htm

    BalasHapus
  5. Ass wr wb, memang mengharukan dan sedih ditinggal kembali Pangersa Abah, smoga para ikhwan senantiasa menjaga Dzikir sesuai yang abah pesankan ke murid2nya, mohon ijin kepada sesama ikhwan TQN Suryalaya tentang siapa pengganti atau penerus Pangersa Abah sebagai guru pembimbing agar selamat dunia dan akhirat maka sesuai pesan syaihk Abdul Qodir Al Jaelani QS, mencari Guru Mursyid Ibarat mencari Jarum ditengah Padang Pasir, info yang lain yang mengetahui Wali Alloh adalah sesama Walinya juga, sesuai dengan kitab Kunci Pembuka Dada terbitan PP Suryalaya, Wali Alloh pasti ada Sahabatnya, baik itu dari keturunannya atau orang lain, baik di dekatnya atau jauh, seperti Nabi Musa dan Nabi Harun, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, Nabi Muhammad dan Sayyidina Ali KW beliau2 itulah saksi bukan hanya kedekatan akan tetapi saksi perjalanan baik perjalanan di dunia maupun menghadap (Mikroj), bukan berarti sahabat dekatnya itu harus pengganti atau penerusnya atau bisa juga demikian, setidaknya kalau tidak dijadikan penerusnya maka dapat dimintai persetujuan, ingat peristiwa Rsulullah Muhammad setelah pulang kerahmatullah dan di gantikan oleh Abu Bakar Assiddiq, maka Khalifah Abu Bakar tidak mau menduduki kursi kekalifahan sebelum mendapat persetujuan Sayyidina Ali KW, jelasnya seorang mursyid itu tahu jalan menuju tujuan akhir, dan bertanggung jawab penuh kepada murid2nya dari dunia sampai akhirat. smoga bermanfaat

    BalasHapus
    Balasan
    1. waalaikum...memang betul tp kita mestinya melihat yg konvensional dr awl kemursyidan pendiri TQN syech Sambas dan kita jg harus ingat Abah Anom sbh sulthon aulia yg kepemimpinan Beliau 100 th dari mulai beliau sbg Mursyid.Jadi kita sekarang masih dlm kemursyidannya dan ga usah cari mursyid.Sebab Mursyid adalah wilayah Allah.JANGAN TERLENA GODAAN SYETAN YG TERKUTUK

      Hapus
    2. kata ajengan zezen BA
      "kenapa banyak ulama dan kiyai tidak mau berthoriqot karena tidak mau jadi murid maunya jadi guru"
      sekarang kenapa banyak ikhwan dan wakil talkin yang belum mengakui mursyid tqn suryalaya ke 38? jawab dan tafsirkan oleh masing - masing...

      Hapus
  6. Saya di talkin oleh Abah Anom tahun 1989
    di Ponpes Suryalaya setelah itu terus melanglang buana manakib Bogor-Jakarta -Bekasi dll.Jadi saya tahu betul siapa Ajengan Gaos dari dulu ucapanya sering menyindir orang lain..Apa pantas sebagai Mursyid..Karomahnya juga apaan tidak ada alis Nol.Sepeninggal Abah Anom Tidak ada lagi Mursyid pengganti beliau.Kecuali Mursyid yang mengangkat dirinya sendiri...alias Kesombongannya...Saya lupa tanggalnya di waktu itu saya ikut Manakib di mesjid Agung Bekasi 2013 Didalam ceramahnya Ajengan Gaos Menyebutkan bahwa Kemursyidan masih di pegang oleh Abah Anom Karena Masih ada masa 46 tahun lagi katanya. Tapi aneh setelah beberapa bulan kemudian saya tidak manakib lagi di bekasi kemudian saya mendapat kabar katanya Ajengan Gaos Sudah jadi Mursyid ke 38.Gue jadi bingung sama tu orang..apa lagi yang gue percayai dari mulutnya die

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata ajengan zezen BA
      "kenapa banyak ulama dan kiyai tidak mau berthoriqot karena tidak mau jadi murid maunya jadi guru"
      sekarang kenapa banyak ikhwan dan wakil talkin yang belum mengakui mursyid tqn suryalaya ke 38? jawab dan tafsirkan oleh masing - masing...

      Hapus
  7. asalamu alaikum kang jeng syaikh maulana muhammad abdul ghaost saefulloh maslul al qodiri wa naqsabandi

    BalasHapus
  8. kata ajengan zezen BA
    "kenapa banyak ulama dan kiyai tidak mau berthoriqot karena tidak mau jadi murid maunya jadi guru"
    sekarang kenapa banyak ikhwan dan wakil talkin yang belum mengakui mursyid tqn suryalaya ke 38? jawab dan tafsirkan oleh masing - masing...

    BalasHapus